§ Real number encoding (gen dalam interval 0 sampai R, dimana R merupakan bilangan real positif, dan biasanya R=1)
Dengan interval tertentu batas bawah rb dan batas atas ra, sebagai berikut :
Jika variabel dibatasi pada interval tertentu, misal [-1,2], maka hasil pengkodean dari contoh diatas adalah :
x1 = -1 + (2-(-1)) x g1 = -1 + 3 x 0,2390 = -0,2830
x2 = -1 + (2-(-1)) x g2 = -1 + 3 x 1,0000 = 2,0000
x3 = -1 + (2-(-1)) x g3 = -1 + 3 x 0,0131 = -0,9607
§ Discrete decimal encoding, (setiap gen bisa bernilai 1-9)
Dengan menggunakan interval tertentu, batas bawah rb, batas atas ra dan N adalah jumlah kromosom ( panjang kromosom ), maka hasil pengkodean adalah :
Jika variabel dibatasi pada interval tertentu, misal [-1,2], maka hasil pengkodean dari contoh diatas adalah :
Dengan pengkodean diatas diperoleh nilai x2 = 1,9970, tidak maksimum seperti real number encoding ( 2,0000 ). Disebabkan nilai maksimum dari discrete decimal encoding kurang dari 1, yaitu :
Solusinya pada batas interval yang diberikan, maka formula pengkodean diatas perlu dirubah menjadi : Dengan N = jumlah gen dalam kromosom(panjang kromosom), maka diperoleh hasil :
Dengan menggunakan interval tertentu, batas bawah rb, batas atas ra dan N adalah jumlah kromosom ( panjang kromosom ), maka hasil pengkodean adalah :
Jika variabel dibatasi pada interval tertentu, misal [-1,2], maka hasil pengkodean dari contoh diatas adalah :
Dengan rumus pengkodean diatas, maka diperoleh :
Pada pengkodean binary dihasilkan nilai x1 = -0,1428, berbeda dengan skema real number encoding x1 = 0,2830, karena jumlah gen pada binary terlalu sedikit ( 3 ) sedangkan dibutuhkan lebih banyak gen pada binary. Jumlah gen mempengaruhi kecepatan AG secara signifikan.
Beberapa aplikasi menggunakan 10 gen untuk binary encoding, dengan ini nilai maksimum yang bisa dikodekan adalah :
dengan ini berarti sudah cukup mendekati nilai 1.
2b. Nilai Fitness [BACK]
- Merupakan nilai yang menyatakan baik atau tidaknya suatu individu.
- Dijadikan sebagai acuan dalam mencapai nilai optimal dalam algoritma genetika.
- Pada masalah optimasi, untuk memaksimalkan fungsi h ( maksimasi ), maka nilai fitness yang digunakan adalah nilai dari fungsi h tersebut, yaitu f = h ( f = fitness ).
- Untuk meminimalkan fungsi h ( minimasi ), maka fungsi h tidak bisa digunakan langsung karena individu dengan fitness tinggi lebih bisa bertahan. Maka fitnes yang digunakan adalah f = 1 / h, dimana semakin kecil nilai h maka semakin besar nilai f.
- Tapi jika h = 0 maka f = ~, untuk mengatasinya h perlu ditambah bilangan yang dianggap sangat kecil sehingga nilai fitnesnya :
- Untuk mendapatkan nilai fitness yang baik, jauh dari peluang nilai konvergen pada optimum lokal, nilai fitness dapat dicari dengan :
Contoh 1 :
Jika diketahui x1,x2 𝟄 [-2,5], bagaimana nilai fitness yang bisa digunakan untuk mencari nilai maksimal ? dan bagaimana nilai fitness untuk mencari nilai minimalnya ? dari fungsi :
Jawab :
- Fungsi h mencapai ekstrem maksimum 50 saat x1 = 5 dan x2 = 5
- Nilai fitness untuk maksimasi adalah h itu sendiri.
- Fungsi h mencapai ekstrem minimum 0, pada saat x1 = 0 dan x2 = 0, karena h bisa saja bernilai 0.
- Maka nilai fitness untuk masalah ini adalah f=1/(h+a), karena dianggap sangat kecil
Seleksi dilakukan untuk mendapatkan calon induk yang baik. Seleksi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan Rotated Wheel dan Tournament.
- Crossover merupakan operator dalam algoritma genetika yang melibatkan dua induk untuk menghasilkan keturunan yang baru.
- Proses crossover bisa dalam bentuk:
- one point CO
- n-point CO
- uniform CO
Mutasi dapat merubah susunan gen dengan swapping, insertion, inversion, dan displacement.
2f. Elitisme [BACK]
2g. Pergantian Populasi [BACK]
Semua N individu dalam suatu generasi akan digantikan dengan N individu baru hasil crossover dan mutasi.
Individu yang dihilangkan merupakan individu dengan nilai fitness terendah/individu tua.

























